Bermula saat melihat poster di dinding facebook seorang teman. Travelnatic akan mengadakan kegiatan jurnalistik dengan konsep kontribusi untuk wisata yang berkelanjutan pada tanggal 20 hingga 22 February 2015. Kebetulan, acara ini berlokasi di sebuah tempat edukasi yang sejak lama ingin saya kunjungi. Pusat Pendidikan Lingkungan Ocean of Life Indonesia (OLI) atau biasa disebut dengan Rumah OLI, saya tertarik sekali untuk ikut.

Tanpa pikir panjang langsung mendaftarkan diri. Sempat was-was juga takut kehabisan seat karena waktu pendaftaran mendekati hari penutupan. Setelah menjalin komunikasi dengan panitia dan melakukan pembayaran, sebuah email masuk di inbox saya. Selamat bergabung, sampai jumpa di Travel Writing Workshop. Senang sekali rasanya.
DAY 1
SELAMAT DATANG. Hari yang di tunggu tiba, sesuai dengan kesepakatan meeting point peserta ada di Stasiun Tugu Yogyakarta. Semua akan berangkat bersama-sama menggunakan mini bus yang biasa melayani jurusan Wonosari-Pantai Baron. Perjalanan menuju Dusun Kelor Kidul, Desa Kemadang, Tunjungsari, Gunungkidul memakan waktu kurang lebih 2 (dua) jam.


TOUR DE OLI. Sebelum kegiatan di mulai kami diajak berkeliling. Orientasi seperti ini sangat penting agar semua peserta bisa mengenal lebih dekat rumah yang akan di tinggali selama beberapa hari ke depan. Menjelajah seluruh bagian rumah dari atas hingga ke bawah. Mas Bintang Hanggono sebagai tour leader menyampaikan banyak sekali informasi dengan bahasa ringan dan menyenangkan. Kegiatan ini akan saya ulas lebih detail di artikel selanjutnya.




Dari Rumah OLI rombongan bergerak menuju ke arah Pantai Watu Kodok. Saat perjalanan Mas Bintang menerangkan tentang sebuah bunga berwarna ungu yang banyak tumbuh di sekitar pantai. Namanya adalah bunga telang (Clitoria Ternatea) . Bunga ini memiliki fungsi sebagai anti depresan karena mengandung zat penenang alami.

Setibanya di kawasan pantai kami semua melakukan small research. Semacam identifikasi tentang apa saja yang hidup ada di sekitar kawasan pantai. Mulai dari tanaman hingga biota laut. Tidak menyangka ternyata di pinggir pantai sekalipun tanaman padi, jagung, kacang dll bisa tumbuh dengan subur.




MATERI PERTAMA. Aninda Dyah penulis buku “Under The Southern Stars” menjadi salah satu pengisi di kegiatan ini. Mba Anid berbagi pengalaman mengenai travelling dan menulis travelbook. Satu hal yang saya tangkap dari diskusi ini bahwa dalam menulis jangan hanya menitik beratkan pada destinasi namun yang lebih penting adalah bagaimana menceritakan perjalanan itu sendiri.

DAY 2
SELAMAT PAGI. Bangun tidur saya bergegas mengambil kamera. Di depan Rumah OLI kebetulan ada petani yang sedang melakukan proses perontokkan padi. Cukup lama berbincang dengan bapak tersebut. Beliau sangat ramah.

Siang ini kami akan berkegiatan mengunjungi Desa Kelor Kidul. Untuk menuju desa tersebut seluruh peserta akan menumpang sebuah truk. Truk merupakan angkutan umum andalan masyarakat yang biasa digunakan untuk pulang dan pergi ke ladang.


VILLAGE TRIP. Ada banyak kegiatan yang dilakukan seperti mengunjungi Gua Grengseng. Lalu ke tempat pembuatan krupuk, mengunjungi pengolahan tempe rumahan dan kerajinan kayu di tempat Bapak Sabar. Industri kecil seperti ini merupakan mata pencaharian sampingan yang di lakukan ketika menunggu masa panen tiba. Sebagian besar masyarakat Dusun Kelor Kidul merupakan petani yang mengantungkan hidup dari hasil bumi mereka.




Balai Desa Kelor Kidul siang itu di penuhi berbagai macam makanan. Awalnya saya heran karena hanya menemukan satu baskom nasi di sana. Saya pikir pasti tidak akan cukup untuk makan siang seluruh panitia dan peserta Travel Writing Workshop. Ternyata nasi digantikan dengan tiwul. Tiwul merupakan makanan pokok khas Gunungkidul yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Tiwul ini di buat dari tepung ketela. Bapak Dukuh beserta istri juga memperlihatkan kepada kami bagaimana cara membuat tiwul. Sederhana dan mudah.




Sore hari setelah kegiatan village trip usai seluruh peserta mendapat waktu bebas hingga makan malam tiba. Ada yang bercengkrama di ruang makan, berkeliling di sekitar rumah ada juga yang pergi ke pantai. Saya lebih memilih membaca buku, beristirahat dan tidur karena kecapekan.
Menu makan malam kali ini adalah nasi pecah kulit, rawis, sambal mentah dan sayur bening daun kelor. Saya baru tau ternyata daun kelor bisa dibuat sayur seperti ini. Mas Theo (salah satu panitia) memberikan mangkuk kosong dengan ukuran lebih besar kepada saya. Karena untuk peserta yang lainnya telah disiapkankan tersendiri mangkuk kecil yang sudah di tambahkan udang. Asik bisa makan sayur sepuasnya. Makan malam yang sangat sempurna.



Usai makan malam semua berkumpul lagi di ruang diskusi. Melakukan review tentang kegiatan dan pengalaman di dapatkan hari ini. Teman-teman dari Via Via Jogja juga datang memberikan banyak informasi mengenai wisata berkelanjutan. Dalam kelompok kecil kami ditugaskan untuk membuat tema dan kerangka penulisan. Masing-masing orang memiliki ide gagasan unik dari berbagai macam sudut pandang. Meski lelah kami tetap semangat untuk mengerjakannya.


DAY 3
Pagi yang cukup cerah. Saya pergi kedapur untuk melihat para kitchen angels memasak. Mas Theo, Mas Bintang, Kak Mimit, Mba Ani, juga si kecil Sang dan Puan terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi kami.
Masih ada pemaparan materi dari Mba Shinta Carolina yang memberikan beberapa teknik tentang penyusunan data perjalanan. Lalu, Mba Dwi Santika melanjutkan dengan audio visual. Sesi lebih banyak diisi dengan tanya jawab.


HARI TERAKHIR. Tidak terasa tiga hari berjalan dengan sangat cepat. Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat, memiliki keluarga baru dari berbagai macam background dan banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Terimakasih Travelnatic, Rumah OLI, Karang Taruna Wiyata, semua panitia dan peserta yang telah membuat acara ini menjadi sangat menyenangkan. Banyak hal yang saya pelajari dari kalian semua. Semoga kedepan kita bisa saling menginspirasi satu sama lain untuk keberlanjutan pariwisata lestari. Sampai Jumpa!






