Cerita Tentang Cara Memesonaku

Memesona itu apa sih? Memesona banyak banget artinya tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Nah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konon katanya memesona bisa berarti mengagumkan atau sangat menarik perhatian. Kalo menurut versi saya memesona adalah jujur, apadanya dan menjadi diri sendiri hingga bisa membuat orang lain yang melihat menjadi tersepona eh terpesona. Kedengerannya sih gampang tapi bagi sebagian orang mengekpresikan apa yang ada di hati itu gag mudah loh.

Bagi saya pribadi tampil berbeda bukanlah masalah. Justru menjadi kebanggaan tersendiri. Kenapa? Karena saya yakin bahwa setiap perempuan di lahirkan dengan keunikannya masing-masing. Contoh kecilnya nih ya, ada banyak perempuan yang hobi belanja, gag percaya diri keluar rumah tanpa make up  dan senang menghabiskan waktu berjam-jam di salon kecantikan. Namun, ada juga nih tipe perempuan yang lebih senang untuk berpenampilan sederhana, apaadanya, suka tantangan dan senang beraktifitas di bawah sinar matahari atau istilahnya gag takut gosong.

Saya sudah mengganggap sebagai hal yang wajar, ketika beberapa teman berkali-kali datang dengan mimik wajah penasaran menanyakan kegiatan aneh yang saya lakukan. Aneh disini bukan berarti menjurus ke hal-hal yang negatif ya. Memang sih kadang saya juga merasa tidak wajar jika membandingkan diri saya dengan aktifitas teman-teman di kampus. Biar mau di kata apa, saya tidak pernah mengambil pusing omongan orang. Yup, saya bahagia dan melakukannya dengan senang hati itu yang paling penting.

Saat membantu teman-teman dari Belanda untuk menyalurkan bantuan pendidikan berupa perlengkapan alat tulis kepada anak-anak yang tinggal di Desa Boro, Kulonprogo.
Setelah bantuan di berikan, hari itu anak-anak Boro kemudian mengikuti serangkaian kegiatan seru. Salah satunya adalah penanaman pohon.

Cerita bermula di penghujung tahun 2010, saat itu sedang terjadi bencana letusan gunung berapi di Yogyakarta. Saya bergabung menjadi team animal rescue. Masih sangat jelas di inggatan saya selama sekitar kurang lebih satu bulan aktif membantu sebagai relawan di posko untuk satwa. Beruntung kegiatan perkuliahan di liburkan waktu itu.

Rutinitas setiap pagi di awali dengan bangun pukul 5 lalu bergegas mengumpulkan pakan untuk sapi dan kambing. Kegiatan pertama adalah menyabit rumput dan memotong batang padi yang sudah panen di sawah. Sebelumnya saya gag pernah yang namanya turun ke sawah karena bapak saya gag punya sawah. LOL! Setelah selesai seluruh pakan di bawa ke beberapa shelter penampungan hewan ternak milik pengungsi.

Kemudian team bergerak ke daerah yang terkena dampak cukup parah akibat terpaan awan panas yang disertai material vulkanik. Team masuk ke perkampungan penduduk dan memberikan makanan untuk satwa domestik seperti kucing, anjing, ayam dan kelinci yang terlantar karena di tinggal oleh pemiliknya ke tempat pengungsian. Jika situasi memungkinkan team juga menurunkan buah dan sayur untuk kera ekor panjang yang hidup di sekitar Taman Wisata Kaliurang.

Memberi makan ayam-ayam yang masih bertahan hidup setelah letusan pertama di daerah Perkampungan Turgo.
Feeding. Banyak kera ekor panjang yang kelaparan karena stok makanan yang sudah tidak ada. Semua pohon sumber makanan mereka tertutup abu vulkanik.
Tidak hanya manusia saja yang terkena dampak dari letusan, hewan liar pun juga.
Cek lokasi bencana bersama team animal rescue dan staff dari Taman Nasional Gunung Merapi di daerah Kaliurang.

Saat saya ceritakan hal ini ke teman-teman, mereka hanya tertawa lebar dan bilang bahwa saya ini orang yang sangat aneh. Di kala orang berusaha mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan diri dari aktifnya Gunung Merapi malah saya sibuk beraktifitas disana. Saya hanya membalas dengan senyuman. Karena pada saat itu saya mengerti bahwa kepedulian orang Indonesia untuk membantu dalam menyelamatkan satwa memang masih sangat kurang. Terkadang miris, setiap kali melihat tayangan Animal Planet tentang konservasi satwa di Indonesia sebagian besar para aktivis di dalamnya berasal dari luar negri.

Tak selang beberapa lama saya kemudian memutuskan untuk bergabung menjadi volunteer di beberapa organisasi penyelamatan satwa, baik untuk satwa liar maupun domestik. Mulai dari membantu kegiatan edukasi datang ke sekolah dan kampus , kampanye di sosial media, menjadi panitia acara musik untuk fundraising, membuat hammock (tempat tidur) untuk orangutan dan menulis lagu tentang alam.

Saat mengisi kegiatan Edukasi di SD Tumbuh, Yogyakarta.
Para generasi penyelamat lingkungan di masa depan.
Di tahun 2013 saya melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berupa Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama tiga bulan di Dusun Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta.
Setiap mahasiswa diberi tanggung jawab untuk membuat program kelompok dan individu. Nah ini merupakan salah satu program saya yang bernama Sekolah Alam.
Saya mengajak anak-anak yang tinggal di Dusun Ponjong untuk bermain di sekitar tempat tinggal mereka. Kali ini kami sedang membuat orang-orangan sawah dari jerami.
Sore itu kami belajar, bernyanyi dan bermain air di selokan dengan riang gembira.
Kembali ke masa kecil yang indah.
Kampanye #JusticeForOrangutan di Bundaran HI, Jakarta.
Peringatan World Orangutan Day di Yogyakarta.
Kampanye tentang penyelamatan lumba-lumba.
Sejak 6 tahun yang lalu hingga sekarang saya bergabung dalam sebuah band yang di punggawai oleh relawan-relawan yang bekerja untuk satwa. Kami banyak menyuarakan isu tentang alam melalui lirik dan lagu.
Ini merupakan foto yang diambil saat kami perform di tahun 2014 pada acara penggalangan dana “Sound For Orangutan” di Rolling Stone Cafe, Jakarta.

Selain itu saya juga sering keluar masuk kebun binatang untuk membantu membuat enrichment. Enrichment adalah semacam pengayaan untuk hewan supaya mengurangi tingkat stress  yang tinggi karena hidup di dalam kandang. Biasanya di buat dari tali, bambu, daun-daunan, kayu, ban bekas, selang pemadam kebakaran, dll. 

Membuat enrichment untuk kera ekor panjang dari ban bekas dan tali di Kebun Binatang Mangkang, Semarang.
Menganyam dan mengebor selang bekas pemadam kebaran untuk di buat hammock.
Bahagia itu adalah tidur-tiduran di hammock orangutan. LOL!
Kebun Binatang Taru Jurug, Solo. Membuat enrichment untuk gajah. Kami memasukkan herbs, kopi dan juga berbagai daun-daunan ke dalam karung goni untuk menstimulus indera penciuman mereka.
Kebun Binatang Taru Jurug, Solo. Menyiapkan tempat air bersih untuk orangutan yang akan di pindahkan dari kandang ke pulau.
Kebun Binatang Taru Jurug, Solo. Selesai menyapu dan membersihkan pulau untuk orangutan dari sampah plastik yang membahayakan.

Terkadang saya juga terlibat dalam operasi penyelamatan satwa dari pemeliharaan illegal dan perdagangan gelap. Saya belajar banyak bagaimana cara melakukan investigasi, pengumpulan data, mapping area dan eksekusi satwa untuk di masukkan ke kandang angkut saat proses rescue berlangsung. Semua harus di lakukan dengan cepat dan rapi.

Proses rescue Orangutan Caka di Jawa Tengah. Team sedang berusaha agar Caka bisa di pindahkan ke kandang angkut.
Saya bahagia setelah melalui proses rehabilitasi Caka sekarang sudah kembali ke rumahnya di hutan sumatera dan berkumpul bersama teman-temannya.

Ada banyak hal baik yang saya rasakan. Salah satunya adalah mendapatkan pengalaman berharga yang tidak mungkin saya dapatkan di bangku sekolah. Bertemu orang baru dengan latar belakang yang berbeda-beda menjadikan saya pribadi yang supel dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Pada akhirnya saya menemukan passion untuk lebih peduli terhadap alam. Lambat laun teman-teman saya mulai mengerti dengan aktifitas saya. Saya senang karena mereka yang awalnya heran kemudian sekarang mendukung hal-hal yang saya lakukan.

Saya akan merasa memesona ketika berhasil menginspirasi orang terdekat di lingkungan saya untuk melakukan hal yang baik. Ini yang namanya kebanggaan bagi diri pribadi. Lagi-lagi saya akan jauh lebih memesona ketika melihat mereka dengan semangat ikut berpartisipasi membantu penyelamatan alam dan satwa di Indonesia. Apapun itu sesuatu yang di mulai dari hati akan kembali ke hati.  Menginspirasi adalah salah satu cara memesona saya, kalo kamu? #BeraksiNyataItuMemesona

Advertisements

Liburan Musim Panas di Victor Harbor

Sejak era tahun ’40 an, Victor Harbor sudah terkenal luas sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Australia Selatan. Terutama bagi warga lokal saat liburan musim panas. Selain itu kota yang berada di Fleurieu Peninsula ini juga menjadi spot yang pupuler bagi para lulusan sekolah menengah atas untuk merayakan kelulusan mereka (schoolies).

img_5371

img_5412

Victor Harbor terletak sekitar 80 km dari ibu kota Adelaide. Perjalanan memakan waktu sekitar kurang lebih 1,5 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tempat ini bisa di tempuh melalui 2 jalur. Jalur pertama yakni Adelaide – Noarlunga – McLaren Valey – Victor Harbor dengan pemandangan kebun anggur.

Sedangkan alternatif lainnya, jika ingin menikmati suasana country side dan pegunungan khas Australia Selatan anda bisa mengambil arah Adelaide – Meadows – Ashbourne – Victor Harbor. Mas Barnaby memilih untuk mengambil jalur yang kedua.

Kami sempat berhenti untuk sarapan di Meadows Bakery. Disini ada beragam variasi menu mulai dari pasty, pie, bread roll, dll. Tempatnya juga cukup nyaman, ada banyak tempat duduk baik indoor dan outdoor.

dscn3957
Meadows Bakery
img_5349
Menikmati sarapan vegetable pasty dan milkshake

Di Australia musim panas biasanya jatuh pada bulan November hingga Februari. Bertepatan dengan libur natal, tahun baru dan bersamaan dengan libur sekolah. Sehingga tempat ini akan terlihat sangat ramai di padati oleh pengunjung di sekitar bulan-bulan tersebut. Selain itu sepanjang bulan Juni hingga September biasanya ada atraksi menarik di sekitar lepas pantai Victor Harbor yakni whale spotting. Ikan paus dari kawasan selatan di musim kawin akan datang ke perairan terdekat untuk melahirkan dan berkembang biak.

img_5384

img_5378

img_5507

Saat tiba di Victor Harbor, Mas Barnaby langsung mengajak saya untuk hiking ke Rosetta Head atau biasa di kenal dengan The Bluff. The Bluff adalah bukit tertinggi yang berada di kawasan Encounter Bay sekitar 15 menit dari pusat kota. Awalnya saya agak ragu karena cuaca sangat terik dan suhu cukup panas. 

img_5434

img_5424

dscn3985-2

dscn4042-2

Perjuangan berbuah manis, saya sangat tercengang setelah sampai di puncak melihat pemandangan 360 derajat yang menakjubkan mata. Perpaduan dari birunya laut, bibir pantai, bukit-bukit dan landskap Encounter Bay.

img_5442

dscn4002-2

img_5445

dscn4010

dscn4045

img_5435

dscn4029

img_5479

Setelah itu Mas Barnaby membeli makan siang di truck food dekat Granite Island. Pancake dengan saus stroberi di tambah es krim dan hot cinnamon donut menjadi santap siang kami. Kami duduk di bawah pohon dan menikmati angin sepoi-sepoi.

img_5512
Donut Cafe
img_5518
Strawberries Galore
img_5519
Snacking time !!!

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Horseshoe Beach di Port Elliot. Suasana pantai waktu itu cukup ramai dipadati oleh pengunjung. Banyak anak kecil berlari-larian, bermain pasir dan ada juga yang berlatih menggunakan soft surf board.  Kami menghabiskan sore dengan berenang dan berjemur di bibir pantai.

dscn4060

dscn4064

dscn4063

Kami memutuskan untuk pergi ke Anchorage Seafront Cafe untuk makan malam. Alamatnya berada di 221 Flinders Parade, Victor Harbor. Makanannya cukup bervariasi mulai dari menu vegetarian, gluten-free, fresh seafood, steak, dll. Staff di restoran ini juga sangat ramah dan menyenangkan.

dscn4073

dscn4075

dscn4084

dscn4106

dscn4114

#NitaInWanderland : Adelaide, 12 Januari 2017

Lebaran di Negeri Kangguru

Tahun 2016, ada banyak hal berbeda yang saya rasakan. Salah satunya tidak bisa berkumpul untuk sahur dan buka puasa bersama keluarga di rumah. Merayakan Idul Fitri di negeri orang. Lalu tradisi sungkem yang berganti dengan komunikasi telepon jarak jauh. Juga absen menikmati ketupat lebaran buatan ibu. Tentu rasa sedih dan haru menyelimuti hati.

Saat ini saya sedang tinggal di Adelaide, Australia Selatan. Adelaide sangat mirip sekali dengan kota kelahiran saya yakni Yogyakarta. Masyarakat yang multikultural dan memiliki toleransi beragama yang cukup tinggi. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman tetang bagaimana melaksanakan ibadah puasa di bulan suci ramadhan dan merayakan hari raya Idul Fitri di Australia.

Adelaide memiliki beberapa masjid yang tersebar di berbagai wilayah. Untuk menandakan waktu sahur dan berbuka saya mengandalkan kalender dari website Islamic Finder. Awal puasa di dua minggu pertama kebetulan sedang travelling keliling Tasmania. Di Tasmania waktu puasa lebih pendek yakni kurang lebih 11 jam. Di mulai dari sekitar pukul 5.50 pagi hingga matahari terbenam pada pukul 16.45 waktu setempat. Tentu suasana ramadhan disini jauh berbeda dengan Indonesia. Islam merupakan agama minoritas yang jumlah pemeluknya 2.2% dari total populasi Australia.

IMG_2192

Idul Fitri. Beberapa hari menjelang hari-H sudah mulai browsing sana sini untuk mengetahui waktu berakhirnya puasa ramadhan. Mba Novie seorang teman yang juga tinggal di Adelaide menginfokan bahwa hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Rabu, 6 Juli 2016. Sholat Ied berjamaah akan diselenggarakan di Adelaide Showground. Karena khawatir sejak semalaman hujan turun tidak kunjung berhenti akhirnya saya putuskan pergi ke Flinders University untuk Sholat Ied bersama Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS) di The Alan Mitchell Sports Centre.

DSCN0278DSCN0286DSCN0290DSCN0305Setelah selesai melaksanakan Sholat Ied ternyata disini ada tradisi khusus yakni makan bersama. Sejak pagi banyak ibu-ibu yang datang membawa beraneka ragam makanan dan meletakkannya di meja yang telah di susun di sisi kanan gedung. Semua orang boleh menikmati hidangan tersebut. Asik!

DSCN0310DSCN0327DSCN0329 (2)DSCN0340DSCN0343

Halal Bihalal. Senang sekali, saya mendapat undangan dari keluarga Mas Ratno & Mba Novie untuk datang di acara halal bihalal bersama komunitas Indonesia di Pembroke School. Meski baru pertama kali datang, orang-orang yang saya temui sangat welcome dan ramah. Menjalin silaturahmi dan bertemu dengan orang baru. Lebih menyenangkan lagi ada banyak sekali makanan khas lebaran negeri tercinta yang di hidangkan di acara tersebut. Rindu yang sedikit terobati.

DSCN0057DSCN0035DSCN0003DSCN0001

DSCN0006

DSCN0009DSCN0045DSCN0030

Adelaide Eid Festival. Sepulang dari halal bihalal menyempatkan datang sebentar ke Wikaparntu Wirra Park. Walaupun udara cukup dingin dan cuaca yang kurang menentu (mendung) acara ini cukup ramai.  Ada banyak kegiatan disini seperti permainan, food court  makanan khas dari berbagai negara seperti Timur Tengah, Malaysia, Turki dan lain sebagainya.13529231_1049941825099832_5551331165743120058_n

DSCN0058DSCN0059DSCN0062DSCN0063DSCN0069DSCN0074DSCN0072DSCN0079

DSCN0076

Silaturahmi. Masih dalam rangka lebaran, Mas Ratno & Mba Novie mengundang kami untuk makan malam di rumahnya. Santapan lezat soto, perkedel goreng dan emping khas Indonesia menjadi hidangan istimewa. Oh nikmatnya! Ya, pada akhirnya saya tidak bisa berhenti mengucap syukur karena masih di pertemukan dengan bulan ramadhan dan juga merayakan Idul Fitri. Selamat lebaran semuanya, mohon maaf lahir batin ya.

DSCN0055DSCN0051DSCN0060DSCN0057DSCN0061Note: Terimakasih banyak buat Mas Ratno & Mba Novie Handono sekeluarga.

MONA: Museum of Old and New Art

ANEH! adalah satu kata untuk mengambarkan MONA. Museum ini memang amat sangat tidak wajar. Ya, bisa dikatakan berbeda dengan galeri-galeri seni pada umumnya.

Kebetulan di awal bulan Juni kemarin saya bersama Mas Barny sedang berada di Tasmania. Dari awal kami memang sudah tertarik sekali ingin mengunjungi MONA. Besyukur sekali saat kami kesini matahari bersinar sangat cerah.

Welcome to MONA!

MONA terletak sekitar 12 km ke arah utara pusat Kota Hobart tepatnya di areal perkebunan anggur Moorilla. Untuk sampai di tempat ini anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau naik kapal Ferry yang khusus melayani perjalanan pulang-pergi menuju ke MONA . Harga tiket dan jadwal keberangkatannya bisa di cek disini .

DSCN8837
Mona Ferry Terminal terletak di Brook Street, Hobart.
DSCN8845
Dua jam sebelum keberangkatan Mas Barny membeli tiket secara online. Setelah mendapat kode booking kami tinggal datang kebagian penukaran tiket. Biaya masuk ke museum $25 dan tiket pulang-pergi menggunakan Kapal Ferry $15 total $40 atau sekitar Rp 400.000,- per orang jika di rupiahkan.
DSCN8842
MR-O and MR-1 akan menggantarkan kita menuju ke MONA.

DSCN8896

DSCN8869DSCN8898

DSCN8885

DSCN8894

MONA memang unik. Disini jangan harap akan menemukan papan petunjuk  yang menerangkan tiap karya seni. Karena saat masuk museum kita akan di bekali sebuah Ipod dan headphone yang menjadi pemandu pribadi. Semua detail keterangan karya seni di susun sedemikian rapinya. Cukup dengan membaca deskripsi, mendengarkan rekaman interview dari sang artist juga bisa sambil mendengarkan musik.

DSCN8992

Terlebih lagi ketika kita sedang berjalan si perangkat hitam pintar ini akan secara otomatis mendeteksi lokasi setiap karya seni yang berada di sekitar kita menggunakan teknologi geolocation.Jadi, secara langsung muncul di layar anda. Sangat mudah bukan!

DSCN8952

DSCN8954

MONA mulai di buka untuk umum pada bulan Januari 2011. Di bangun oleh salah seorang milyuner yang berprofesi sebagai penjudi profesional bernama David Walsh. Karya seni yang di tampilkan merupakan koleksi pribadi dari Mr. Walsh. Wujudnya juga sangat beraneka ragam mulai dari hasil kebudayaan kuno seperti mumi dari mesir, karya artistik modern yang sangat terkenal hingga pemikiran-pemikiran seni kontemporer dunia

DSCN8939
Anemograph karya Cameron Robbin yang sedang di pamerkan di Field Lines Exhibition.
DSCN8950
Hasil foto cahaya yang di tangkap oleh instrumen anemograph.
DSCN8936
Solar Longerheads, instalasi ini menggunakan kekuatan tenaga cahaya matahari untuk membuat pola di media datar.
DSCN8942
Sonic Wind Section – sound installation.

 

Di bawah ini adalah foto instalasi favorit saya “Cloaca Poop Machine”. Jangan kaget ya kalo sudah masuk keruangan ini akan mencium bau yang tidak sedap. Ya, karena anda sedang berada di dalam perut anda sendiri. Ups!

Cloaca merupakan hasil karya Wim Devolye yang memasukkan mikroba hidup dari dalam sistem pencernaan manusia ke dalam sebuah seni instalasi. Mikroba ini di beri makan dua kali sehari dengan makanan yang sama seperti yang kita makan seperti kue, pizza, burger, dll. Setelah mengalami serangkaian proses semua makanan tersebut akan berubah bentuk menjadi feses.

DSCN8964
Rangkaian dari Cloaca Poop Machine.
DSCN8958
Snake – mixed media on paper, 1,620 sheets.

DSCN8976

DSCN8969

 

Ohh ya, MONA tidak hanya melulu tentang museum. Disini juga terdapat kafe, restoran, bar, brewery, winery, bioskop juga hotel. Panorama sungai, pegunungan dan kebun anggur menjadi nilai plus dari MONA. Tempat ini juga bisa di sewa untuk beberapa event seperti pernikahan dan konser musik.

 

DSCN8912

DSCN8988

DSCN8990 DSCN8989

DSCN9005

DSCN9014

DSCN9002

DSCN9020

DSCN8996

DSCN8908

Setelah puas seharian berkeliling, kami kembali lagi ke Hobart. Sebagai orang awam saya sangat merasa senang mengunjungi tempat ini karena sangat di mudahkan untuk memahami karya seni dengan penyampaian yang sederhana.

Menurut saya MONA menawarkan pengalaman lain daripada yang lain. Kolaborasi seni dan teknologi audio visual yang sangat pintar. Tidak salah jika dinobatkan menjadi Australia’s Most Controversial Museum. Jadi, wajib masuk ke daftar tempat yang harus anda kunjungi ketika berada di Hobart.

 

Date: Wednesday, 8 June 2016

655 Main Road Berriedale
Hobart Tasmania 7011
Australia

Terhipnotis oleh Panorama Bukit Widodaren

Bukit Widodaren merupakan sebuah bukit berkarang dan berpadang rumput yang terletak disisi timur Pantai Widodaren. Tepatnya di Dusun Kanigoro, Kel. Kanigoro, Kec. Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta.

IMG_6010
Kondisi jalan berdebu karena masih dalam tahap pengerasan.

Lokasi Bukit Widodaren bisa dikatakan masih sulit di jangkau. Akses menuju tempat ini sangat minim. Karena belum ada area penitipan kendaraan sehingga saya sarankan untuk memarkirkan motor anda dengan aman dan gunakan kunci ganda.

IMG_6002
Kami memarkirkan kendaraan di salah satu ladang milik warga setempat.

 

Jika berencana untuk bermalam di tempat ini usahakan sampai sebelum malam tiba. Jika tersesat anda bisa bertanya dengan pak tani dan bu tani yang sedang mengarap ladang. Tidak perlu sungkan. Sapalah dan bertanya dengan sopan pasti mereka dengan senang hati menunjukkan jalan. Trekking di siang hari memang jauh lebih mudah.

WP_20150723_09_02_42_Pro
Keep calm & trek on | Dok. Afandi
WP_20150723_08_39_44_Pro
Trekking siang hari | Dok. Afandi

Pengalaman saya kemarin karena sampai di lokasi saat hari sudah mulai gelap maka agak sedikit kesulitan mencapai titik point. Akhirnya saya dan beberapa teman memutuskan untuk camping di Pantai Pyuyon. Keesokan harinya barulah kami bergegas merapikan tenda dan berjalan menuju Bukit Widodaren.

WP_20150723_08_48_05_Pro
Take a pose di depan gubuk pak tani  | Dok. Afandi
WP_20150723_09_01_43_Pro
Medan yang di lewati berupa bebatuan yang cukup tajam | Dok. Afandi

Sesampainya di Bukit Widodaren saya sempat merasa tercengang melihat panorama pantai yang sangat indah dari atas ketinggian. Selepas mata memandang yang terlihat hanyalah pantai pasir putih, tebing dan laut biru. Sesekali perahu nelayan tampak samar-samar dari kejauhan.

WP_20150723_09_10_11_Pro
Tertegun menikmati indahnya pemandangan | Dok. Afandi
WP_20150723_09_08_58_Pro
Laut biruuuuuu | Dok. Afandi
WP_20150723_09_49_48_Pro
Mandi matahari di atas bukit karang | Dok. Afandi
WP_20150723_09_55_16_Pro
Menikmati udara pantai | Dok. Afandi

Kami menghabiskan waktu berjam-jam bercengkrama dan bebaring di atas rerumputan. Sambil menikmati samudra biru nan luas di depan kami. Sangat pas untuk beristirahat sejenak dari padatnya rutinitas. Tempat yang indah dan menyenangkan. Terimakasih Afandi David (instagram @maspeot) untuk foto – fotonya.

WP_20150723_09_23_20_Pro WP_20150723_09_23_53_Pro WP_20150723_09_24_30_Pro WP_20150723_09_22_14_Pro WP_20150723_09_18_00_Pro WP_20150723_09_22_56_Pro WP_20150723_09_25_43_Pro

WP_20150723_09_26_09_ProWP_20150723_09_29_30_Pro

Tiga Hari di Rumah OLI, Penuh Inspirasi

Bermula saat melihat poster di dinding facebook seorang teman. Travelnatic akan mengadakan kegiatan jurnalistik dengan konsep kontribusi untuk wisata yang berkelanjutan pada tanggal 20 hingga 22 February 2015. Kebetulan, acara ini berlokasi di sebuah tempat edukasi yang sejak lama ingin saya kunjungi. Pusat Pendidikan Lingkungan Ocean of Life Indonesia (OLI) atau biasa disebut dengan Rumah OLI, saya tertarik sekali untuk ikut.

B609Zd4CMAAlKLq
Poster: Travel Writing Workshop #1

Tanpa pikir panjang langsung mendaftarkan diri. Sempat was-was juga takut kehabisan seat  karena waktu pendaftaran mendekati hari penutupan. Setelah menjalin komunikasi dengan panitia dan melakukan pembayaran, sebuah email  masuk di inbox  saya. Selamat bergabung, sampai jumpa di Travel Writing Workshop. Senang sekali rasanya.

DAY 1

SELAMAT DATANG. Hari yang di tunggu tiba, sesuai dengan kesepakatan meeting point  peserta ada di Stasiun Tugu Yogyakarta. Semua akan berangkat bersama-sama menggunakan mini bus yang biasa melayani jurusan Wonosari-Pantai Baron.  Perjalanan menuju Dusun Kelor Kidul, Desa Kemadang, Tunjungsari, Gunungkidul memakan waktu kurang lebih 2 (dua) jam.

DSCN1454
Sugeng Rawuh.
DSCN1355
Welcome drink, kolak pisang hangat dengan gula aren.

TOUR DE OLI. Sebelum kegiatan di mulai kami diajak berkeliling. Orientasi seperti ini sangat penting agar semua peserta bisa mengenal lebih dekat rumah yang akan di tinggali selama beberapa hari ke depan. Menjelajah seluruh bagian rumah dari atas hingga ke bawah. Mas Bintang Hanggono sebagai tour leader  menyampaikan banyak sekali informasi dengan bahasa ringan dan menyenangkan. Kegiatan ini akan saya ulas lebih detail di artikel selanjutnya.

DSCN1368
Mas Bintang sedang memberikan arahan.
DSCN1384
Rumah Kompos tempat pengolahan limbah sisa rumah tangga.
DSCN1395
Proses tanya jawab saat tour sedang berlangsung.
DSCN1398
Hasil pengolahan biogas dari kotoran manusia dan hewan ternak.

Dari Rumah OLI rombongan bergerak menuju ke arah Pantai Watu Kodok. Saat perjalanan Mas Bintang menerangkan tentang sebuah bunga berwarna ungu yang banyak tumbuh di sekitar pantai. Namanya adalah bunga telang (Clitoria Ternatea) . Bunga ini memiliki fungsi sebagai anti depresan karena mengandung zat penenang alami.

DSCN1574
Bunga telang yang di campur dengan air hangat, siap diseduh.

Setibanya di kawasan pantai kami semua melakukan small research. Semacam identifikasi tentang apa saja yang hidup ada di sekitar kawasan pantai. Mulai dari tanaman hingga biota laut. Tidak menyangka ternyata di pinggir pantai sekalipun tanaman padi, jagung, kacang dll bisa tumbuh dengan subur.

DSCN1417
Tanaman palawija tumbuh subur di pesisir pantai.
DSCN1420
Pohon ini adalah penyangga dari abrasi pantai, buahnya juga bisa diolah sebagai sirup (minuman).
DSCN1445
Membeli makanan penduduk merupakan salah satu kontribusi untuk meningkatkan perekonomian lokal.
DSCN1440
Makan malam kali ini saya menemukan tahu, tempe, sambal dan lalapan.

MATERI PERTAMA. Aninda Dyah penulis buku “Under The Southern Stars” menjadi salah satu pengisi di kegiatan ini. Mba Anid berbagi pengalaman mengenai travelling dan menulis travelbook. Satu hal yang saya tangkap dari diskusi ini bahwa dalam menulis jangan hanya menitik beratkan pada destinasi namun yang lebih penting adalah bagaimana menceritakan perjalanan itu sendiri.

DSCN1452
Mba Anid in action.

DAY 2

SELAMAT PAGI. Bangun tidur saya bergegas mengambil kamera. Di depan Rumah OLI kebetulan ada petani yang sedang melakukan proses perontokkan padi. Cukup lama berbincang dengan bapak tersebut. Beliau sangat ramah.

DSCN1486
Pagi – pagi sekali Pak Tani telah memulai aktivitas.

Siang ini kami akan berkegiatan mengunjungi Desa Kelor Kidul. Untuk menuju desa tersebut seluruh peserta akan menumpang sebuah truk. Truk merupakan angkutan umum andalan masyarakat yang biasa digunakan untuk pulang dan pergi ke ladang.

DSCN1594
Naik satu persatu ke atas truk.
DSCN1599
Selfieeeee dulu ya.

VILLAGE TRIP. Ada banyak kegiatan yang dilakukan seperti mengunjungi Gua Grengseng. Lalu ke tempat pembuatan krupuk, mengunjungi pengolahan tempe rumahan dan kerajinan kayu di tempat Bapak Sabar. Industri kecil seperti ini merupakan mata pencaharian sampingan yang di lakukan ketika menunggu masa panen tiba. Sebagian besar masyarakat Dusun Kelor Kidul merupakan petani yang mengantungkan hidup dari hasil bumi mereka.

DSCN1639
Kelompok satu sedang berada di dalam Gua Grenseng bersama bapak dukuh.
DSCN1695
Salah satu usaha sampingan Bapak Sabar yakni membuat mebel.
DSCN1715
Dapur tradisional tempat pengolahan tempe.
DSCN1675
Mengamati pohon jeruk bali yang tumbuh di Dusun Kelor Kidul.

Balai Desa Kelor Kidul siang itu di penuhi berbagai macam makanan. Awalnya saya heran karena hanya menemukan satu baskom nasi di sana. Saya pikir pasti tidak akan cukup untuk makan siang seluruh panitia dan peserta Travel Writing Workshop. Ternyata nasi digantikan dengan tiwul. Tiwul merupakan makanan pokok khas Gunungkidul yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Tiwul ini di buat dari tepung ketela. Bapak Dukuh beserta istri juga memperlihatkan kepada kami bagaimana cara membuat tiwul. Sederhana dan mudah.

DSCN1785
Tepung ketala dan tiwul yang sudah jadi.
DSCN1754
Makanan khas ndeso yang rasanya super nyamlenggggg.
DSCN1762
Tradisi Dhahar Kembulan (makanan di kumpulkan menjadi satu kemudian di santap secara bersama-sama). Kebersamaan itu indah 🙂
DSCN1760
Nasi tiwul, tempe, lalapan dan sambel mentah 🙂

Sore hari setelah kegiatan village trip usai seluruh peserta mendapat waktu bebas hingga makan malam tiba. Ada yang bercengkrama di ruang makan, berkeliling di sekitar rumah ada juga yang pergi ke pantai. Saya lebih memilih membaca buku, beristirahat dan tidur karena kecapekan.

Menu makan malam kali ini adalah nasi pecah kulit, rawis, sambal mentah dan sayur bening daun kelor. Saya baru tau ternyata daun kelor bisa dibuat sayur seperti ini. Mas Theo (salah satu panitia) memberikan mangkuk kosong dengan ukuran lebih besar kepada saya. Karena untuk peserta yang lainnya telah disiapkankan tersendiri mangkuk kecil yang sudah di tambahkan udang. Asik bisa makan sayur sepuasnya. Makan malam yang sangat sempurna.  

DSCN1496
Fakta tentang daun kelor, si daun ajaib.
DSCN1814
Sayur bening daun kelor, enakkkkkk dan sehat.
DSCN1805
Suasana saat makan malam di hari kedua.

Usai makan malam semua berkumpul lagi di ruang diskusi. Melakukan review  tentang kegiatan dan pengalaman di dapatkan hari ini. Teman-teman dari Via Via Jogja juga datang memberikan banyak informasi mengenai wisata berkelanjutan. Dalam kelompok kecil kami ditugaskan untuk membuat tema dan kerangka penulisan. Masing-masing orang memiliki ide gagasan unik dari berbagai macam sudut pandang. Meski lelah kami tetap semangat untuk mengerjakannya.

DSCN1819
Diskusi malam ditemani jajanan lemet dan cemplon.
DSCN1825
Bapak Tupar, Mas Karang Taruna dan peserta kelompok satu.

DAY 3

Pagi yang cukup cerah. Saya pergi kedapur untuk melihat para kitchen angels  memasak. Mas Theo, Mas Bintang, Kak Mimit, Mba Ani, juga si kecil Sang dan Puan terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi kami.

DSCN1896

DSCN1910DSCN1492

DSCN1953

DSCN1957

Masih ada pemaparan materi dari Mba Shinta Carolina yang memberikan beberapa teknik tentang penyusunan data perjalanan. Lalu, Mba Dwi Santika melanjutkan dengan audio visual. Sesi lebih banyak diisi dengan tanya jawab.

DSCN1988
Mba Shinta dan Kak Mimit yang sedang sibuk menulis.
DSCN2003
Diskusi yang selalu disertai canda dan tawa.

HARI TERAKHIR. Tidak terasa tiga hari berjalan dengan sangat cepat. Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini karena bisa bertemu dengan orang-orang hebat, memiliki keluarga baru dari berbagai macam background dan banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Terimakasih Travelnatic, Rumah OLI, Karang Taruna Wiyata, semua panitia dan peserta yang telah membuat acara ini menjadi sangat menyenangkan. Banyak hal yang saya pelajari dari kalian semua. Semoga kedepan kita bisa saling menginspirasi satu sama lain untuk keberlanjutan pariwisata lestari. Sampai Jumpa!

DSCN2049
Seleb of the day, Mas Bintang dan keluarga bersama Mba Shinta.
DSCN2040
We’re the big family of  Travel Writing Workshop #1 🙂

Sensasi Lain, Laguna di Pantai Wediombo

Akhir pekan telah tiba, saya dan beberapa teman berencana untuk pergi berlibur. Seperti biasa terlebih dahulu kami melakukan ritual selancar di dunia maya. Kepo kesana kemari akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Wediombo.

Pukul 09.00 berangkat dari Jogja menuju ke daerah Gunungkidul via Jalur Panggang. Meskipun cukup jauh kami tetap memilih melewati jalan ini karena menghindari macet. FYI, saat weekend dan musim liburan jalur utama Jogja ke pegunungan kapur ini biasanya selalu ramai dipadati oleh kendaraan yang menuju ke arah pantai.

Perjalanan yang kami lalui cukup jauh. Jarak pantai sampai ke Kota Jogja kurang lebih 80 Km. Estimasi waktu perjalanannya sekitar 3 jam berkendara. Pukul 12.00 kami telah sampai di Pantai Wediombo. Dari area parkir, aroma khas laut sudah cukup terasa selain itu kita juga bisa melihat pemandangan pantai dari ketinggian.

Sebelum beraktivitas kami menyempatkan diri untuk mengisi amunisi. Ada beberapa ibu yang menjajakan makanan tradisional khas Ndeso. Menu cukup beragam seperti pecel, sayur lombok ijo, nasi jagung dan lotis buah. Kami berhenti di sebuah warung sederhana di bawah pohon waru. Saya memesan nasi jagung plus pecel dan segelas es teh. Cukup dengan uang Rp 8.000,- perut kenyang hatipun senang. Seketika semangat menjadi 100%.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Sejauh mata memandang, garis pantai dari ujung ke ujung terlihat begitu panjang. Pantai pasir yang luas, sesuai dengan letak geografisnya yang landai dan berpasir putih bersatu dengan gugusan karang. Tempatnya juga teduh karena banyak pohon di sekitar pantai. Gradasi warna air biru laut dengan pasir putih berpadu dengan gugusan karang hitam mengkilat memanjakan mata. Ditambah lumut – lumut berwarna hijau yang hidup menempel di antara bebatuan.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Sebenarnya ada satu hal cukup menarik hati kami untuk datang ke Pantai Wediombo. Tempat yang saya maksud adalah sebuah laguna. Laguna merupakan sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya.

Letaknya ada di batu karang sisi paling ujung timur. Untuk mencapainya kita harus berjalan kaki menyusuri pantai atau bisa juga melewati sebuah jalan setapak menaiki bukit. Beberapa orang menyebut tempat ini dengan istilah Kolam Raja. Tempatnya memang sangat asyik. Betah berlama – lama disini.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Saat ombak datang, kolam ini akan terisi penuh dengan air. Sensasi deburan ombak menuju kolam inilah kemudian menjadi atraksi yang sangat luar biasa. Pengalaman yang persis seperti mendapat muntahan air dalam ember yang ada di waterboom. Bedanya yang ini lebih seru karena asli langsung dari alam. Kemudian air asin tersebut akan mengalir kembali menuju laut. Sangat pas untuk bersantai ria di tengah teriknya matahari.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Tidak terasa hari sudah menjelang sore. Ombak mulai pasang, kami bergegas untuk pulang. Namun sebelum pulang kami tidak mau melewatkan momen matahari terbenam di Pantai Wediombo. Beruntung sekali, sunset  sore itu sangat cantik. Senang rasanya bisa mengantar sang matahari kembali keperaduan.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.  Pantai Wediombo, Gunungkidul.

Pantai Wediombo, Gunungkidul.

 

FYI. Salah satu band punk melodic asal Jogja yang bernama Endank Soekamti pernah membuat video klip di tempat ini. Judul lagunya adalah Luar Biasa feat Kemal Palevi. Berikut ini linknya:

 

Lokasi. Pantai Wediombo berada di Kabupaten Gunung Kidul. Tepatnya terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo. Posisinya ada di paling ujung timur setelah Pantai Siung. Kira – kira hampir memasuki perbatasan antara Provinsi D.I.Y dengan Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa tengah.

 

Minggu, 9 November 2014

The Ganks: Vita, Titi, Mas Affandi & Mas Santo.

Photos taken by Nita & Affandi